Jumat, 01 April 2011

Studi Kasus Akuntansi




CASE I
1.  Karakter Linda adalah berkaitan dengan Etika Akuntansi, Auditing dan dapat berkaitan juga dengan pajak. Dalam Akuntansi Keuangan biasa dilakukan window-dressing dengan double book keeping. Dalam Auditing: terjadi conflict of interest pada diri akuntan yang cenderung memihak pada kepentingan manajemen, karena mereka yang membayar fees. Idealnya Akuntan Publik harus independen. Dalam bidang perpajakan dikenal : Tax Evasion dan Tax Avoidence.
Yang paling kelihatan adalah masalh etika akuntansinya. Dibidang Akuntansi Manajemen dalam Penganggaran pada perusahaan terdivisionalisasi terdapat istilah Slack Budget dengan “Motto”: It is better to promise too little and deliver more, than to promise too much and deliver less. Slack Budget: perbedaan antara apa yang seharusnya dicapai dengan apa yang sungguh-sungguh diusulkan dalam anggaran.

Tujuan Budget Slack: Target mudah dicapai (untuk pendapatan) dan ada pengaman 
(biaya).

Tujuan akhirnya: memperoleh insentif manajemen

Perilaku lain: menghabiskan anggaran biaya dengan tujuan agar anggaran periode berikutnya tidak dipotong dimana bila terjadi berarti terdapat Nonvalue Added Activities yang menimbulkan Nonvalue Added Costs bagi organisasi

Akibat selanjutnya: daya saing rendah.
Maka tindakan Linda tidak dibenarkan secara etika. Selain itu, perusahaan tidak melakukan perannya dengan baik sebagai pengontrol.

2.  Tidak mau bekerjasama dalam hal tersebut, agar perusahaan dapat melakukan perencanaan lebih objektif dengan pasar yang ada. Jika saya bekerjasama, maka perusahaan tidak dapat melihat peluang pasar dengan objektif. Apalagi, dalam penyusunan anggaran, semuanya akan dihitung dari unit marketing terlebih dulu.

3. Merekomendasikan perubahan dari traditional budget ke performance budget. Sehingga penilaian lebih berorientasi pada hasil atau kinerja. Sebagai seorang plan manajer, pertimbangkan saja apakah penjualan jika ditunda, biayanya akan lebih besar atau lebih kecil, itu yang pertama dilakukan (analisis cost) terhadap barang disimpan? Profitnya bisa berapa?:-)


CASE II

1. Adanya persaingan harga, mendesaknya pengembangan kualitas dan kuantitas produksi, supply bahan sangat memadai. Apakah membeli barang dari luar negeri perlu dipertahankan?
2.  Ada beberapa alternati yang tidak masuk akal/ tidakmungkin dan memungkinkan dilakukan:
a. Mendirikan perusahaan sendiri—Ini memakan biaya yang terlalu besar, serta membutuhkan sumber daya dan mesin baru. Sementara itu, supply di pasaran semakin membludak yang mengakibatkan harga barang turun. Potensi profit bisa suram.
b.  Menyewa lokasi usaha yang lebih besar, dan mengontrakkan gedung sekarang—perlu pertimbangan biaya perpindahan, perubahan alamat, dan beberapa perubahan lainnnya yang membutuhkan adaptasi, juga hubungan dengan konsumen.
c. Membeli barang dari luar negeri—Hal ini perlu pertimbangan kualitas barangnya. Apakah kualitasnya memang ekstrim berbeda, atau hampir sama atau malah sama dengan yan di dalam negeri? Bagaimana dengan waktu pengirimannya, apakah dapat dijamin tiba tepat waktu secara rutin?
d.  Menyewa gedung sebagai gudang—perlu pertimbangan biaya gedung, lokasinya dari kantor berapa jauh (2 mil) dan berapa mudah aksesnya.

Melihat diskusi dan profil singkat Norton, maka yang paling dapat dilakukan dengan baik saat in adalah alternatif D. Pertimbangan: waktu melakukan tindakan lebih cepat sehingga tidak kehilangan banyak opprtunity cost, tujuan untuk mengembangkan produksi dapat tercapai, dan jaraknya tidak jauh.



1.       Fungsi Budgeting:
a.      Planning
b.      Communication and Coordination
c.      Allocating resources
d.      Controlling Profit and Operations

2.       Perbedaan Traditional Cost (Biaya harga tradisional) dengan Target Costing :
a.  Biaya harga tradisional yang didasarkan dirancang untuk menarik setiap pelanggan, tetapi sasaran target costing pelanggan tertentu.
b. Biaya harga tradisional yang didasarkan mempertimbangkan pasar yang availavle untuk produk pada akhir proses, sedangkan target costing menganggap pasar pada awal proses.
c. Biaya produk tidak relevan di bawah harga biaya tradisional yang didasarkan, tetapi sangat penting di bawah target costing
d. Biaya produk tidak relevan di bawah target costing, tetapi sangat penting dalam penetapan harga berdasarkan biaya tradisional.
3.       Ya, agar memperoleh hasil yang sama dari profit perusahaan.
4.       Apakah ada sumber daya manusia yang sudah sanggup mengerjakannya? Jika sudah ada mesin, akankah produksi berjalan rutin? Seberapa besar perbedaan hasil yang akan didapatkan? Seberapa efektif? Berapa jumlah karyawan yang dapat digantikan mesin? Apa resikonya jika ada yang di PHK?


Merupakan sebuah tugas dalam mata kuliah Akuntansi Manajerial, Prodi MM, UNIKA Atmajaya Jakarta. Terimakasih untuk Ibu Jade M. Feliany yang telah membimbing dalam mata kuliah ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar