Selasa, 29 Maret 2011

Mempertanyakan Komitmen Perusahaan


Tulisan ini merupakan sebuah analisa kasus manajemen & Etika bisnis dari buku
Joseph W. Weiss, Business Ethics: A Stakeholder and Issues Management Approach, Ch, 4, Thomson, South-Western, Canada, 2003., p. 148.


===0===
 


Masalah perusahaan tempat Jim Howard bekerja bukan saja menjadi sebuah contoh yang perlu dipelajari, namun bisa saja menjadi kenyataan yang pun dialami oleh perusahaan tempat para manajer bekerja. Maka membaca teks di atas, dapat saja seakan bercermin (bagi yang memiliki kesamaan pengalaman) dan dapat juga menjadi sebuah gladi bersih bagi para manajer (yang belum memiliki pengalaman serupa, namun sedang mempersiapkan diri menghadapinya).  Tulisan ini akan memberikan sebuah cuplikan singkat pengalaman Jim Howard, kemudian akan mencoba menganalisa teksnya dan mencoba menjawab beberapa pertanyaan: Apa yang akan dilakukan jika saya adalah Jim? Apa masalah intinya, bagaimana dan mengapa? Siapa yang menjadi korban dari masalah ini, dan bagaimana value-based management memberikan penilaiannya terhadap masalah ini?

Jim adalah seorang manajer penjualan di sebuah perusahaan software  yang menyediakan database dengan indeks yang tentunya dibutuhkan banyak orang demi  kemudahan mengakses informasi yang ada. Dalam teks,[1] kemajuan, komitmen, dan pelayanan perusahaan terhadap para konsumen perusahaan itu tak perlu dipertanyakan lagi—dianggap bereputasi tinggi, terlebih dengan komitmen: “We will treat our customers with respect and dignity.” Kemajuan teknologi dan kemudahan setiap pengguna jaringan internet untuk mengakses informasi memberikan banyak dampak, baik pada pengguna layanan internet , demikian pula kepada perusahaan-perusahaan yang ada. Tak terkecuali perusahaan tempat Jim Howard bekerja (baca: perusahaan), kemudahan para pengguna jaringan internet untuk mengakses informasi bahkan informasi yang sesungguhnya merupakan modal utama yang ingin disajikan oleh perusahaan kemudian menjadikan perusahaan sebagai mitra sekunder.  Masalahnya demikian luasnya, mulai dari pasar yang terus menyusut sementara daya beli meningkat, persaingan antar perusahaan yang meningkat, kemudian layanan gratis yang dengan mudah didapatkan dari jaringan internet. Hal ini sangat mempengaruhi pendapatan perusahaan. Perusahaan kemudian merespon masalah ini dengan mengurangi biaya produksi, membuat produk dalam bentuk paket, dan mulai memperkenalkan produk yang berbeda. Jim Howard kemudian dipercaya sebagai seorang yang menangani pembuatan  customer subscriptions  yang biasanya dikerjakan oleh sekretaris, karena selama ini dianggap sebagai bagian pekerjaan yang kurang penting. Saat Jim mulai mencek account para konsumen, ternyata ada pelayanan yang kurang adil dilakukan kepada para konsumen dalam hal biaya produk. Konsumen yang lama dikenakan biaya tiga kali lebih mahal, dan konsumen baru dikenakan biaya lebih murah. Saat mengkomunikasikannya dengan bosnya, Jim kemudian menawarkan agar konsumen lama diberitahu bahwa telah ada kebijakan harga baru, harga yang lebih murah; sementara untuk konsumen baru, diberikan sebuah penjelasan bahwa harga yang dikenakan untuk mereka bayar adalah harga yang sangat murah. Pimpinan Jim memberikan jawaban yang membuat Jim semakin bingung: “Mengapa tidak mencoba menawarkan harga tertinggi, kemudian dapat dinegoisasikan kalau konsumen menolak membayar?”  Masalahnya bukan hanya itu. Telah ada kesepakatan bahwa segala pembiayaan dan strateginya akan dipublikasikan kepada semua konsumen. Mungkinkah memberikan informasi yang sedemikian kepada para konsumen? Namun pimpinan Jim tetap pada keputusannya. Dengan ini Jim merasa telah mengkhianati perusahaan, konsumen, usaha penjualannya, dan nilai-nilai profesionalnya. Jim masih sama dengan pegawai lainnya, tidak ingin kehilangan pekerjaan dan di sisi lain tidak ingin kehilangan kepercayaan konsumen.


Dalam cuplikan singkat  pengalaman Jim di atas, berbagai aspek telah berbaur dan menghadirkan berbagai penafsiran teks.  Jim dan bosnya adalah penjabat di barisan internal stakeholder perusahaan. Apakah visi dan misi tidak digagas bersama dan belum disepakati oleh semua pihak? Jika Jim, menjadi orang yang dipercaya perusahaan untuk bisa membantu perusahaan bertahan di era teknologi informasi yang kian cepat, berapa banyak pegawai yang memiliki pengalaman yang sama dengan Jim? Masih banyak hal lain yang dapat dilihat dari pengalaman Jim yang dihadirkan teks di atas. Namun kita tidak akan membahas semua aspeknya, kita hanya akan mencoba memasuki keadaan Jim dan perusahaan, lalu mengambil maknanya serta bergegas membawa semangat Jim keluar dalam dunia bisnis.
Jenis perusahaan apakah ini saat menghadapi revolusi teknologi informasi? Jika saja penulis menjadi Jim, apa yang akan penulis lakukan? Apa masalah yang ada dalam perusahaan ini? Sambil bermimpi menjadi seorang Jim dan masuk dalam semangat situasi yang sama, ketiga pertanyaan ini akan dibahas dalam anak judul BUILT-TO-LAST, CREATIVE DESTRUCTION, dan CREATIVE RECONSTRUCTION. Sementara anak judul VALUE-BASED STAKEHOLDER MANAGEMENT: MIMPI ATAU PELUANG? akan mencoba memberikan deskripsi pendekatan value-based stakeholder management untuk masalah etis dalam perusahaan.

BUILT-TO-LAST, CREATIVE DESTRUCTION, dan CREATIVE RECONSTRUCTION
Kemudahan yang telah disediakan oleh layanan jaringan internet telah memberikan sebuah warna baru dalam dunia usaha dan berbagai aspek kehidupan.  Sudarminta (2004) pun mendukung bahwa sesungguhnya teknologi pun memberikan dampak yang cukup kaya terhadap kehidupan manusia. Bagi dunia bisnis, teknologi bisa saja dianggap sebagai pembebas karena telah memberikan banyak waktu senggang bagi para pekerja sementara mesin bekerja, komunikasi yang lancar, dan peluang yang lebih besar dimiliki perusahaan untuk memilih. Namun bisa saja hadir sebagai ancaman. Teknologi modern telah menjadi suatu sistem yang saling terjalin dan bersifat menyeluruh; suatu jaringan yang saling memperkuat sehingga semacam menjadi kekuatan yang autonom. Perkembangan teknologi secara global telah menjadi sebuah kekuatan yang tak terkendalikan. Manusia dan perusahaan individual Nampak semakin tak berdaya berhadapan dengan kekuatan teknologi sebagai suatu sistem yang berjalan dengan dinamika dan logikanya sendiri. 
Jacques Ellul (1980), filsuf Perancis dan kritikus sosial, menuliskan bahwa teknologi telah tak terkendali lagi oleh manusia.  Demikian pula dengan David Kipnis (1990), seorang psikolog, dalam bukunya Technology and Power telah memberikan pemaparan bahwa siapa yang menguasai teknologi mempunyai kekuasaan atas orang lain dan hal ini mempengaruhi sikap-sikap pribadi dan struktur sosialnya. Bahkan para pemegang kekuasaan menganggap bahwa keunggulan teknologis adalah keunggulan moral.
Kebijakan perusahaan (dalam hal ini, perusahaan Jim) dalam menghadapi dampak teknologi bagi produk mereka adalah respon yang wajar. Adanya komitmen perusahaan: To treat the customers with respect and dignity memberikan sebuah gambaran bahwa memang perusahaan ini adalah perusahaan yang built-to-last. Hal ini tak dapat dipungkiri, karena hanya perusahaan yang built-to-last lah yang mampu bertahan sekian lama dan menjadi perusahaan nomor wahid di bidangnya. Namun pandangan David Kipnis(1990) telah nyata dalam pengalaman perusahaan ini. Dalam kacamata etika bisnis, keputusan perusahaan untuk  mengurangi biaya produksi secara drastis dan memperkenalkan produk baru dalam bentuk paket, menunjukkan adanya pergeseran nilai ke arah creative destruction. Hal ini tertuang dalam teks pada salah satu alineanya:

The company reaction was to drastically decrease the cost of its products, bundle databases into packages, and start to alter product introductions by including several value-added services that were new to the market.”

Selain keputusan perusahaan untuk mengurangi  biaya produksi secara drastis, perusahaan juga menawarkan produk baru yang dianggap lebih kreatif. Dalam teks, kalimat …start to alter product introductions by including several value-added services that were new to the market memberikan kesan seakan-akan nilai-nilai yang sudah dimiliki perusahaan pada awalnya belumlah sempurna dan tampat bahwa perusahaan kurang berkomitmen terhadap nilai yang sudah dibakukan terlebih dulu. Di sisi lain, perusahaan tampak kreatif karena menciptakan nilai-nilai service kepada konsumen yang ternyata masih baru dalam dunia pasar. Namun analisa tak berhenti sampai di situ, karena sebuah pertanyaan kritis dapat diajukan. Hal ini akan dibahas pada anak judul berikutnya: Membawa Komitmen dan Nilai Perusahaan ke Meja Hijau.
Teknologi informasi itu ternyata tidak hanya memberikan pergeseran nilai perusahaan ke arah creative destruction,namun juga telah menggeser ke arah creative destruction. Hal ini tampak saat Jim sebagai manajer penjualan dipaksa untuk kreatif membuat sebuah customer subscriptions yang selama ini kurang dipedulikan. Dengan keadaan ini, perusahaan menunjukkan kemampuannya untuk bisa bertahan bahkan memiliki daya juang yang tinggi di tengah persaiangan yang bertambah ketat baik di dunia maya dan dunia nyata. Ternyata, hal tersebut tak lama berlangsung disebabkan oleh masalah yang ada adalah budaya pemimpin Jim. Pimpinan Jim sama sekali belum memiliki nilai perusahaan untuk treat the customers with respect and dignity.  Hal ini terlihat dalam teks:

“Why don’t we try to get this price? In the customer refuses to pay it, then we’ll negotiate.”


Teks ini menghadirkan budaya pemimpin yang sangat visioner mencapai target usaha dan profit semaksimal mungkin, namun di lain sisi telah mengabaikan si konsumen—sementara konsumen merupakan hal yang perlu ditingkatkan kepercayaannya dalam masalah ini. Merunut masalah, maka sangat jelas bahwa kehadiran teknologi telah memudahkan masyarakat mengakses lebih banyak data, dan jumlah konsumen menjadi berkurang.  Ternyata pimpinan Jim belum menyadari bahwa kepercayaan konsumen adalah yang utama untuk dapat bersaing dalam masalah perusahaan—terlebih konsumen lebih memprioritaskan harga barang dan customer service setelah pembelian produk. Dalam hal ini, Jim yang telah menemukan ketidakadilan dalam pembebanan biaya kepada para konsumen, namun tidak berhasil menyampaikan nilai etis yang seharusnya dilakukan perusahaan karena budaya pimpinannya, menjadi korban yang paling tersakiti dalam masalah ini. Nilai-nilai profesionalitas dalam dirinya nyaris tak berdaya. Jika saja konsumen mengetahui hal ini, maka konsumen akan menjadi korban utama. Perusahaan pun dapat menjadi korban jika ternyata konsumen kehilangan kepercayaan mereka dan beralih kepada opsi lain.
                Mari keluar dari kisah Jim, dan mencoba bermimpi. Jika saja aku menjadi Jim… Komunikasi dengan pimpinan merupakan sebuah nilai yang tidak boleh dianggap gampangan. Sebagai seorang sales manager, keberpihakan kepada konsumen merupakan hal yang wajar demi mendapatkan kepercayaan konsumen. Selain mengkomunikasikan kepada pimpinan, kemampuan untuk membangun hubungan dengan departemen lainnya pun sangat penting. Jika masalah yang dihadapi adalah masalah ketidakadilan pembebanan biaya, maka hubungan dengan bidang financial setidaknya perlu dibangun dan diarahkan kepada visi, misi, dan nilai perusahaan, terlebih dalam perusahaan tentunya ada rapat berkala. Deskripsi dan pemaparan kuantitatif terhadap masalah yang dihadapi adalah hal yang berarti untuk dilakukan.

VALUE-BASED STAKEHOLDER MANAGEMENT: MIMPI ATAU PELUANG?
Pendekatan yang disumbangkan oleh ilmu etika dalam dunia bisnis tidak dapat dikesampingkan, terlebih dalam kisah Jim dan perusahaan tempatnya bekerja. Ada sepuluh pendekatan yang dapat dilakukan dalam value-based management, antara lain:
1.       Mengidentifikasi masalah, peluang, dan dukungan dari top leader: Apakah respon perusahaan sudah menjawab masalah perusahaan?
2.       Mengkaji ulang visi, misi, kode etik dan tujuan: Sudahkah semua mengetahui visi, misi, kode etik dan tujuan perusahaan?
3.       Menentukan langkah-langkah dan realisasinya: Sudahkahkah semua tim bersinergi mencapai tujuan?
4.       Mengembangkan ukuran kinerja, untuk mendapatkan feedback dari konsumen: Sudahkah konsumen merasa dipuaskan dengan pelayanan? Jika ternyata tidak ada keluhan konsumen, mengapa harus mengurangi biaya produksi?
5.       Menengidentifikasi respon perusahaan terhadap masalah: Apakah kebijakan membuat produk baru dan secara drastic mengurangi biaya produksi sudah bijaksana?
6.       Menentukan kesejajaran sistem organisasi: Mengapa selama ini sekretaris saja yang membuat customer subscriptions?
7.       Menentukan garis dasar dan analisis GAP antara sekarang dan masa mendatang.
8.       Menciptakan benchmarks: Mau jadi apa ini untuk lebih baik?
9.       Mengembangkan ringkasan laporan dan rekomendasi: Apa saja yang sudah dilakukan dan apa hasilnya?
10.   Melihat hasil dan rekomendasi dari stakeholder.

Sepuluh langkah ini tampak ideal. Mimpikah atau sebuah peluang? Jim, sebagai seorang manager penjualan, tentunya tidak dapat berperan aktif dalam semua hal ini, namun dalam departemen yang dipimpinnya, hal ini sangat memungkinan dilakukan. Sedapat mungkin, jika aku menjadi Jim, maka sebuah deskripsi lengkap dan pendekatan ini akan menjadi jalan untuk dapat mempertahankan kemampuan perusahaan bersaing di keadaan sulit. Dalam menghadapi pimpinan, maka sepuluh pendekatan ini akan sangat membantu., terlebih dengan adanya rekomendasi dari stakeholder lainnya. Namun semua itu terjadi “jika saya adalah Jim.” Mimpikah sebuah value-based management approach?  Ternyata value-based management memberikan jalan keluar untuk dapat mempertahankan reputasi perusahaan dalam keadaan sulit sekalipun, maka ini pantas dianggap sebagai peluang. Kasdin (2009) memberikan sebuah refleksi bahwa moralitas tercakup dalam bisnis dan menjadi sebuah pembangkit gairah berbisnis. Bahkan semakin banyak tekanan dalam perusahaan, akan semakin banyak peluang dengan adanya value-based management. Bahkan dengan adanya pemimpin seperti bos Jim, ada peluang dari poin kesepuluh!

MEMBAWA KOMITMEN DAN NILAI PERUSAHAAN KE MEJA HIJAU—INDONESIAKU?
We will treat our customers with respect and dignity! Demikian perusahaan memberikan yel-yel dan seruannya terpampang dalam setiap label perusahaan, dan pintu perusahaan. Dalam kenyataannya, ada ketidakadilan pembebanan biaya produk kepada para konsumen (baca: konsumen lama dan baru). Lantas di mana nilai respect yang ingin diberikan perusahaan kepada konsumen saat dalam situasi ini? Budaya pemimpin seperti apa yang telah direpresentasikan oleh visi perusahaan? Mau dibawa kemana sebuah perusahaan yang memiliki nilai moral seperti ini? Ternyata visi dan komitmen perusahaan masih perlu diragukan.
                Century? MLM? Perdagangan indeks? Akankah Indonesia menutup mata dan membui semua pekerja yang memiliki nilai-nilai etis dalam batinnya? Di mana para pelajar etika bisnis saat bisnis sedang dalam gejolak Jim…


DAFTAR RUJUKAN:
Sudarminta, J., “Dampak Teknologi Bagi Kehidupan Manusia”, Jurnal Diskursus, Vol.3., No. 1. Jakarta: STF
Driyarkara, 2004.
Ellul, Jaques. The Technological System. New York: Continuum, 1980.
David Kipnis, Technology and Power. Berlin: Springer-Verlaag, 1980.
Joseph W. Weiss, Business Ethics: A Stakeholder and Issues Management Approach, Ch, 4,
Thomson, South-Western, Canada, 2003., p. 148.
Sihotang, Kasdin. ‘Moralitas Dalam Bisnis, Mungkinkah?” Suara Pembaharuan 25 Juli 2009.

Rangkuman jawaban pertanyaan:

1.      Jika saya menjadi Jim…:
a.      Komunikasikan dengan pimpinan.
b.      Buat sebuah laporan deskriptif, analisis kuantitatif dan minta masukan dari para stakeholder.
c.       Mengajukan masalah dalam rapat.
d.      Tetap menjalankan tugas, dan mencapai target yang diharapkan.
e.      Komunikatif dengan konsumen.
2.      Masalahnya?
a.      Eksternal
                                                              i.      Pasar yang meningkat, kehadiran fasilitas gratis di internet
                                                            ii.      Konsumen beralih ke fasilitas gratis di internet
b.       Internal
                                                              i.      Budaya pimpinan yang birokratis
                                                            ii.      Kebijakan perusahaan yang bersifat creative destructive
                                                          iii.      Belum semua pegawai mengetahui dan memaknai nilai perusahaan
3.      Yang menjadi korban?
a.      Jim: karena tak dapat berbuat apa-apa, sementara nilai-nilai dalam dirinya menuntutnya melakukan sesuatu demi konsumen.
b.      Konsumen: Jika mereka mengetahui, mereka dapat menuntut dan tak percaya pada perusahaan lagi.
c.       Perusahaan: karena kehilangan kepercayaan konsumen.
4.      Ada 10 langkah yang akan dilakukan. Sebagai bawahan, saya akan lebih agresif melakukan langkah nomor 10: Melihat ulang hasil dan rekomendasi dari para stakeholder.
5.      Tidak ada perbedaan, justru bersinergi.


[1] Alinea pertama: The company has established vendor and has a good reputation in the market for its high quality of products, fast and personal customer support, and strong loyalty to its customers.








=====
Tulisan ini merupakan tugas untuk Ujian Tengah Semester mata kuliah Etika Bisnis dalam program studi MM UNIKA Atmajaya, Jakarta. Terimakasih untuk Drs. Kasdin Naibaho, M.Hum., atas kebersamaan dan diskusi hangat di kelas seksi-A.

Minggu, 27 Februari 2011

Anak Berkebutuhan Khusus?


Aditya Gumay lagi-lagi membuat penonton filmnya terharu, tergelitik, sekaligus tertegun dengan film yang diangkat dari buku Jendela Rara ini. Film yang mengisahkan dua lingkungan yang kontras: rumah singgah (beserta lingkungannya) dan rumah mewah (beserta lingkungannya) ini menembus berbagai penghalang antara yang ada antara dua lingkungan tersebut. Aldo! Ya, Aldo, anak berkebutuhan khusus itu yang menjembatani jurang kaya dan miskin. Maka tidaklah berlebihan bila Aldo disebut sebagai inisiator yang dahsyat! Nenek Aldo, orang padang dari Medan  menjadi pembuka jalan saat Rara terjatuh di samping mobil mereka dengan membawa Rara berobat ke rumah sakit dan mengantarkan Rara kembali ke rumahnya.

Aldo menjadi penggagas pemberian buku-buku untuk Rumah Singgah, sekolah Rara yang Bu Alya mengabdikan dirinya untuk mengajar anak-anak pemulung itu di sana. Aldo yang menggagasi renang bersama di kolam renang rumahnya, serta menggagasi tinggalnya Rara di rumahnya sementara Ayah dan Nenek Rara dalam keadaan kritis. Aldo, anak berkebutuhan khusus itu, menjadi tokoh utama yang sangat manusiawi.

Betapa sebuah "kebaikan" merupakan bahasa yang dipahami oleh semua insan. Dulunya saya bertanya-tanya, apa konsep seorang anak berkebutuhan khusus (anak yang tidak lazim, atau tidak sama dengan anak pada umumnya) tentang "kebaikan", spiritualitas dan kehidupan. Film ini memecahkan keingintahuan itu. Sungguh Aldo dan anak berkebutuhan khusus lainnya pun pada kenyataannya memiliki pemahaman yang sama. Satu hal yang menarik, bahwa mereka pun lebih mulia.


Salam Secangkir Kopi!

Tanjung Duren, Minggu Pagi.

Kamis, 24 Februari 2011

Minum Kopi di Busway

Yuk!

Menikmati secangkir kopi di bus Transjakarta (baca: Busway) benar-benar meneduhkan jantung.:-) Mari bersama toast untuk kopi kita! Toast!

Berbondong-bondong menuju pintu karcis, kretak krutuk, kletek kletak, derap langkah insan-insan sibuk sungguh meramaikan ibukota. Langsung terbayang dengan derap langkah kuda di jaman dulu, barangkali tak jauh berbeda. Betapa kagum! Puluhan, mungkin ratusan bahkan dalam sehari entah ribuan orang bisa melewati lantai-lantai besi itu, hingga tampak banyak bagian besi itu terkikis oleh kaki. Licin dan mengkilap, menipis, dan sebagian mulai berlubang karena menipis. Bahkan karat pun tak berani menempel. Mewangi, ramai, segar, panas, sesak, semua menyatu di pagi hari menuju kereta kencana Jakarta, sang Busway. Ya, sang Busway. Menantinya bak menanti keselamatan. Klaksonnya bak lonceng kemenangan. Berhari-hari dengan hal yang sama, menjadi sebuah rutinitas yang selalu dapat disaksikan di tengah hiruk pikuknya kota ini. Banyak sama dan sedikit berbeda dengan petang, saat sang pejuang nafkah kembali dari medan perangnya masing-masing. Aroma parfum bercampur aroma manusiawi, nafas-nafas panas dan kering, wajah-wajah lesu dan lelah menjadi warna rutinnya saat petang hingga malam. Ya, mari minum kopi di busway!


Pemersatu Kebhinnekaan
Minum kopi di busway selalu menggairahkan. Bukan saja takut kopi tertumpah karena guncangan beberapa lubang dan rem sang pengemudi, namun kopi itu membuat mata tak bisa terpejam. Selalu ada hal baru! Fenomena Smartphone berbagai merek, QWERTY, touchscreen, mulai dari harga tertinggi di nusantara hingga harga terendah di nusantara ada di busway. Selalu demikian pagi dan petang. Berbagai pola wajah, mulai dari kantoran, bersantai, riang, gundah, semua menyatu di busway. Tak heran bila busway bagiku adalah pemersatu kebhinnekaan! Tak bisa memejamkan mata. Selalu ada yang menarik untuk dilihat:-)


Superplong Sang Pembunuh Supermacet
Keresahan dan kejenuhan dengan macetnya ibukota bukan saja menjadi milik masyarakat pada umumnya. Pak Beye pun, bahkan jajaran media menyorot sumpeknya kota ini, dengan sekelumit masalah terkait kepadatan penduduk, jumlah kendaraan bermotor yang kian meningkat serta polusi yang ditimbulkannya, hampir tak terpecahkan. Saat dibuatnya jalur-jalur khusus busway dan pengontrolan penggunaan jalur busway, baru nafas terasa lega sebab naik busway kemanapun lebih cepat dan lebih hemat. Saya sudah putus hubungan dengan macet! Supermacet telah tiada sejak superplong diberlakukannya koridor 9 dan 10, serta survey berkala oleh ITDP dan layanan cepat dari sang superplong yang asli. Namun banyak superplong palsu pula berkeliaran! Waspadalah!:-)

Layanan Premium dengan Harga Ekonomis
Entah sampai kapan para pemilik mobil mewah akan menggunakan busway menjadi alat transportasinya menuju kantor dan rumah. Dalam liburan Desember hingga Januari, hampir tidak pernah saya menaiki busway, sebab mengendarai mobil menjadi pilihan pertama. Saat harus menaiki busway kembali, mulai resah dengan bayangan akan kepadatan antrian, panas, berdiri sepanjang perjalanan, dan lelahnya dalam perjalanan. Namun kinerja dan upaya Transjakarta tidak dapat dianggap enteng. Betapa nyamannya saya menaiki busway Grogol-Harmoni, Harmoni-Bendungan Hilir, Harmoni-Senen, dan sebaliknya. Bahkan jauh lebih nyaman daripada taksi BlueBird atau Silver Bird! Sungguh! Jalur busway telah steril dan perjalanan kemanapun sangat cepat, bahkan kadang lebih cepat daripada antriannya, dan pasti lebih cepat daripada menaiki taksi yang masih terikat dengan kemacetan dan biaya yang semakin besar terlebih dengan naiknya harga BBM.


Ketika Busway Menjadi Pembuka Masalah Sosial
Mulai dari Blok-M hingga Harmoni, dan dari Harmoni hingga Pulo Gadung, aku tak berhenti mencatat di memoriku betapa banyaknya pendobrak detak jantungku. Siapapun pasti merasakan hal yang sama jika mengalaminya. Antrian panjang yang tak kurang dari setengah jam, berdesakan dan saling mendorong untuk masuk... Jika saja nafas manusia adalah asap, halte Harmoni tentulah penyebab polusi kota ini. Kepulan asapnya bisa saja melebihi kepulan asap pabrik kertas Indorayon dulu di Sumatera Utara. Aku teringat dengan adanya pemisahan antrian laki-laki dengan wanita, ditempel jelas di pintu masuk dan keluar halte. Keliaran lelaki dan perempuankah yang disimbolkan dengan aturan itu? Antrian buswaykah pemicu keliaran itu? Di beberapa halte, aturan tersebut tinggal tempelan kertas yang sudah tidak terlihat lagi tintanya, dan antrian kembali membaur. Hampir di semua halte busway, mesin ATM Bank DKI berfungsi sebagai penghias saja. Saya heran, di luar halte busway, justru mesin ATM berfungsi optimal melayani para nasabah. Kedua tempat itu memiliki SATPAM atau setidaknya yang bertanggungjawab menjaganya. Lantas, buswaykah pemicu kriminalitas baru tersebut? Bahkan pintu-pintu haltepun sudah tidak berfungsi elektronis lagi, serta kasus pencurian, perampokan dan penyekapan marak. Jumlah pengemis jembatan-jembatan penyeberangan menuju halte busway, pengasong, pedagang kaki lima, semakin hari semakin bertambah. Jembatan penyeberangan itu bahkan terasa seperti pasar dengan kemacetan pejalan kaki pula karena dagangan mereka mengambil setengah area pejalan kaki. Saya sedang mensinyalir akan ada arogansi para pengemudi busway pula. Dipicu oleh semangat dan komitmen pemerintah DKI untuk mensterilkan jalan busway, para pengemudinya pun serta merta dengan mudah saja melindas kendaraan yang secara sengaja atau tidak masuk ke jalur busway, bahkan orang pun tak boleh menyeberanginya (lihat pemberitaan bulan lalu, anak kecil ditabrak tewas oleh busway, pengendara motor meninggal karena busway).
Dialihkannya trayek PPD dan Mayasari Bakti yang searah dengan busway pun bersamaan mengalihkan kriminalitas ke busway. Kemanakah para artis bis kota itu akan pergi? Kemanakah para preman dan pemalak pergi? Tentulah busway bukan menjadi tempatnya. Maka mereka harus memodifikasi bentuk premanismenya dengan yang lebih sesuai dengan busway, sebab memang bus umum adalah kantor mereka. Para preman tak lagi berpakaian sangar, namun mulai berkemeja wangi. Para pengamen beralih menjadi banci di lampu merah, lap mobil, dan lainnya yang lagi-lagi menimbulkan masalah baru--KEMACETAN. Apakah yang ada dalam benak para kaum margin ini saat adanya busway dihubungkan dengan kerja apa yang akan mereka lakukan?


Resiliensi: Secangkir Kopi
Pusat keramaian memang menjadi pusat masalah. Berani ramai, berani menuai masalah. Para tokoh dalam tulisan ini adalah: aparat keamanan, supir busway, kaum margin, penumpang busway, dan presiden. Anda siapa dari antara mereka? Luangkan waktu Anda membantu mereka...



Salam secangkir kopi!
Gn. Sahari Selatan, 24 Februari 2011, 21.00 WIB.

Potret!



Baginya, terlihat sulit sekali mengambil sepenggal potret badanku yang akan kusertakan di CV baruku. Tiga puluh menit akhirnya aku merasa puas dengan salah satu hasil jepretannya, sementara yang lainnya kuhapus. Hahaha! Begitulah. Rasanya puas melihat hasil foto yang satu itu. Walau memang faktor wajah yang kurang bersahabat di kamera memang salah satu faktor yang menghambat.:-)

Anyway, life is a potret! Sekali menjalaninya, tidak akan dapat diulang kembali. Setiap detik berlalu, itu adalah potret. Ya. Potret adalah masa lalu! Hal itulah yang terefleksikan olehku, saat aku melihat kamera kecil itu, bergumam dalam hati, mengapa harus ada kamera? Ya. Potret adalah masa lalu! Maka kamera adalah masa lalu. Betapa berharganya masa lalu, sehingga kamera menjadi sebuah benda yang dianggap wajib dimiliki setiap orang (entah di HP, kamera kantong, atau bahkan kamera berlensa yang kisaran harganya 14-30 jutaan). Betapa mahalnya sebuah potret. Ya, sebuah potret. Mari berfoto! Mari membangun masa lalu yang indah! Mari tersenyum! Ciptakanlah foto-foto terbaikmu di semua lensa kamera yang ada.


Salam Secangkir Kopi!
Tengah malam di Ibukota, 23 Februari 2011

Rabu, 23 Februari 2011

Resilience!

Waktunya tidur. Mulailah bermimpi. Seonggok harapan, segudang nafsu, sekelumit keliaran, jelajahi represimu! Jadilah manusia! Lepaslah resilience!

Waktunya untuk berbenah. Masuklah ke alam mimpi. Bersama Freud. Bersama Nietszhe. Bersama "aku"mu. Jadilah manusia! Lepaslah resilience!

Waktunya terpingkal. Kemarikan suaramu. Tegangkan nadimu, sorakkan ceriamu. Jadilah manusia! Lepaslah resilience!



Ibukota, 23 Februari 2011