Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juni 2011

Perbandingan Dua Bangsa Besar

Entah mengapa cukup sering aku mendengar kisah tentang orang Tiongkok (atau Tionghoa) yang jika dibandingkan dengan orang Indonesia berbanding terbalik dalam hal kerja keras, kegigihan, dan kemampuan berbisnis. Orang Tionghoa yang menjadi warga negara Indonesia dikenal lebih tekun dan lebih bersungguh-sungguh daalam bekerja. Dalam sejarah dunia, suku bangsa Tionghoa pun telah dikenal cukup lama sebagai pedagang dan hampir ada di setiap negara. Sebagai bukti, nama tempat di beberapa daerah dan negara mengabadikannya (misalnya: China Town, atau Pecinan, dan mungkin ada nama lain). Di Indonesia sendiri, nama tempat tersebut hampir ada di setiap provinsi.

Berbicara tentang bisnis dan ekonomi, orang Indonesia yang merupakan keturunan Tionghoa sangat berperan besar. Masih sangat jelas dalam ingatan betapa mengerikannya diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa di Indonesia. Namun keadaan sekarang jauh berbeda. Bahkan roda perekonomian Indonesia tidak akan dapat berputar cepat tanpa adanya peran keturunan Tionghoa yang menjadi pebisnis, konsumen, dan bahkan pengambil kebijakan strategis di pemerintah pusat. Kita patut berterimakasih pada mereka.

Pagi ini, di speed boat kecil bermuatan kurang lebih 35 orang penumpang, saya melihat sepasang orangtua yang sudah lanjut usia masuk bersama seorang putranya dan pembantunya (orang pribumi, kemungkinan besar dari Jawa). Tujuan mereka berempat sama dengan tujuan saya, Batam.

"Berapa untuk empat orang?" Tanya putranya kepada wanita muda penjual tiket yang berdiri di hadapan saya.

"Tigapuluh delapan ribu per-orang, Bang." Ujar si penjual tiket.

"Hah! Mahal! Bukan Tigapuluh ribu ya?"

"Tidak, Bang. Tigapuluh ribu itu ongkos ke Lobam. Bukan ke Batam..." Jawab si penjual tiket.

"Ah, beda dua ribu rupiah saja dengan ferry! Mending saya naik ferry!" Sahutnya lirih.

Langsung kedua lansia tadi menyampaikan keberatannya sahut menyahut kepada si penjual tiket. Sekitar lima menit kejadian itu berlangsung. Hingga akhirnya mereka pun membeli tiketnya dan meminta kembalian yang pas.

Sepasang orangtua tersebut duduk manis di bangku terdepan, berseberangan dengan saya yang juga duduk di bangku paling depan. Tinggal menunggu beberapa penumpang lagi agar kapal penuh, dan dapat berangkan menuju Batam. Satu persatu penumpang masuk ke kapal, dan kebanyakan membayar sejumlah Rp. 50.000, dan si penjual tiket selalu memberikan kembalian Rp. 10.000. Tentunya kurang Rp. 2.000 dari yang seharusnya. Melihat hal itu, sepasang orangtua tadi heran dan saling bicara, "kembaliannya kurang..." sesekali mereka berkata "lho, kok kembaliannya kurang Rp. 2.000 tidak diambil?" Lelah dengan berkali-kali melihat hal yang sama, sepasang orangtua tadi akhirnya diam saja dan si Bapak berkata pada istirnya: "Orang-orang bayar lebih Rp. 2000."

Pengakuan ini membuat saya bertanya dalam hati, inikah pembeda bangsa pribumi yang terkesan lamban dengan bangsa keturunan Tionghoa yang terkenal ulet itu?

+++++++++++

Secangkir kopi menemani brainstorming kiranya memberikan inspirasi.

Apa yang paling cocok sebagai atribut bangsa Tionghoa: Pelit? Adil? Tidak ingin mengambil yang bukan haknya?

Lantas apa atribut keturunan pribumi: Kurang perhitungan? Dermawan, luhur? Suka mengambil yang bukan haknya?

Apapun itu, cuplikan di Pelabuhan Sri Bintan Pura ini sangat berharga bagi para penggemar kopi:-)



Salam secangkir kopi,
Pulau Bintan, 15 Juni 2011 (06.35 WIB)

Kamis, 09 Juni 2011

Secangkir Kopi Bagi Bangsa yang Kuat

Asap mengepul di Plaza Semanggi pada Rabu (8/6-2011) itu mengingatkanku pada kata kunci: "bencana." Di halaman depan pada pagi itu, para petugas pemadam kebakaran berjaga dan bertugas cepat, lincah dan tepat, dan para petugas mal itu berdiri memandangi asap itu dari bawah.

Bencana, merupakan bahasa yang sudah mulai berafiliasi dengan istilah "NGO", "bantuan", dan mungkin kata yang lainnya. Pada kenyataannya, bencana kerap terjadi di Indonesia. Yang paling melekat pada ingatan orang Indonesia tentang bencana adalah bencana alam atau mungkin krisis ekonomi pada tahun 1998. Entah apa yang membuat bangsa ini cukup sering mendapatkan bencana. Gempa dan tsunami di Aceh, Mentawai, gunung meletus, hama ulat bulu yang tak terkendali penyebarannya, banjir, dan banyak lagi. Hal ini menjadi kajian yang dianggap penting oleh negara, sehingga tak heran jika Universitas Pertahanan Indonesia menjadikan Prodi Manajemen Bencana sebagai salah satu jurusan pilihan dalam program beasiswanya yang bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Melihat begitu seringnya bangsa mendapatkan bencana, negara pantas menjadi sebuah negara yang experienced dan  benar-benar expert dalam penanggulangan bencana. Dengan demikian, bencana telah menjadi kopi resiliensi bangsa ini!:-)

Amat miris memperhatikan kenyataan berbeda dengan yang seharusnya. Masalah sekarang bukan lagi tentang ketidakpedulian terhadap lingkungan. Lebih dari itu, kesiapan menghadapi bencana pun hampir tak tampak. Hampir pasti bahwa tidak semua rumah memiliki senter, lampu minyak, dan lain sebagainya untuk kesiapan menghadapi bencana. Lahirlah bangsa yang banyak menuntut PLN untuk berkinerja melebihi kapasitasnya, bangsa yang menuntut pembangunan mal di mana-mana, bangsa yang hampir tidak puas dengan jaringan sinyal telepon, dan bangsa yang hampir lupa dengan masa lalunya.


Negara Dilemahkan?

Lantas apakah negara ini telah menjadi negara yang tak terlawan? Masihkah gemuruh proklamasi dan semangat kemerdekaan tahun 1945 itu masih bergaung di gaya hidup setiap masyarakatnya?

Sedikit meleset dari yang seharusnya. Tawaran modernisme dan postmodernisme terlalu menggiurkan. Boro-boro memikirkan negara dan impian proklamasi, kesempatan yang ada digunakan untuk mencari sebanyak-banyaknya keuntungan diri. Sejenak melupakan bangsa, sejenak mengingat bangsa dan berlagak pahlawan, demikianlah fenomena yang ada. Jika saja dulu penjajah telah melemahkan bangsa, maka sekarang orang Indonesia sendiri yang melemahkan bangsa ini.

Pendidikan yang dulu diteriakkan oleh Ki Hadjar Dewantara, Budi Utomo dan lain-lain sudah seharusnya membatin dalam setiap generasi. Kenyataannya adalah biaya pendidikan mahal, fasilitas pendidikan apa adanya, bahkan lulusannya pun kurang dihargai sebagaimana mestinya. Dosen-dosen yang telah bergulat dengan sungguh-sungguh belajar di luar negeri untuk membangun bangsanya seakan diabaikan, dan tak sebagaimana mestinya diperlakukan.

Kesiagaan bencana menjadi hal yang hampir saya pertanyakan. Apakah rakyat benar-benar sudah siap menghadapi bencana karena seringnya bencana, sehingga persiapan menghadapi bencana pun tak tampak? Atau apakah rakyat sudah semakin kuat sekarang ini sehingga tak perlu lagi menggunakan alat bantu? Pada kenyataannya, masih saja tidak sedikit yang menjadi korban dalam bencana yang terjadi. Sungguh bangsa dilemahkan oleh rakyatnya sendiri.


Bencana Susulan

Bencana, bukan saja terpasung pada istilah bencana alam. Korupsi yang terungkap di berbagai departemen dan kementerian, korupsi diperusahaan-perusahaan swasta, praktik suap dan pencucian uang bukan lagi masalah baru. Bahkan seakan susul menyusul, informasi tentang hal itu silih berganti muncul di televisi. Sulit menemukan orang yang tidak materialistis di kota besar seperti Jakarta. Tidak mudah mencari nasionalis sejati yang bercita-cita mulia dan tulus untuk bangsanya. Bahkan yang ada justru bom diledakkan oleh rakyatnya sendiri yang sampai sekarang entah apa motifnya. Semuanya pun menelan korban.

Semua peristiwa di atas hanyalah cuplikan kecil keadaan yang terjadi. Bencana, kini perlu diakui telah terjadi setiap hari di negeri ini. Bencana ekonomi, bencana moral, bencana politik, dan berbagai bencana lainnya datang silih berganti. Hasilnya, rakyat miskin tetap miskin, bahkan menjadi buas dan garang. Yang kaya semakin kaya, bahkan menjadi lupa bahwa dia adalah orang Indonesia yang bersahaja. Inilah cerminan masa kini sebuah bangsa yang dulu pernah kuat dan mengklaim diri sebagai bangsa yang merdeka dan terhitung berani, terlebih pada masa Bung Karno sebagai presidennya.
Sungguhkah bangsa ini negara tak terlawan?





Salam secangkir kopi...
Toast dari semanggi!
 9 Juni 2011



Rabu, 01 Juni 2011

Rapuh Menanti Bangkit

Dia seorang janda, guru di sebuah sekolah negeri di daerah Sumatera. Rumahnya adalah sekolah dan gubuk kecilnya yang berjarak sedikitnya 20 kilometer dari sekolah tempat dia mengajar.
Seakan terhempas saat dia mendengar anak tunggalnya menjadi pembawa bencana dan menjadi korban bencana, atau apapun yang terkait dengan bencana itu, dia tak tahu pasti. Yang pasti, dia seakan tersambar petir dengan kekuatan media dan informasi tentang putranya itu. Sontak saja dia menangis, meraung, menjerit, marah, geram, gemas, serta menggertakkan giginya.
 Lama dia merasakan kesusahan itu. Lama sekali. Hingga suatu saat putranya melewati tempahan waktu dan menunjukkan pada Ibunya bahwa dia kuat! Sampai saat itu, terbersitlah senyum di bibir Ibu itu, terucaplah syukur pada Yang Maha Kuasa. Sekarang tertinggallah sisa keluhan masa lalunya: kerutan di dahinya, keriput pada tubuhnya yang kian kurus, serta langkahnya yang gontai.


Kisah di atas bisa saja menjadi pengalaman banyak orang. Lazimnya, rasa syukur, kemauan untuk bangkit dan kemampuan untuk tersenyum hanya muncul saat ada kebahagiaan atau pengalaman indah yang dirasakan. Namun tidak selamanya kebahagiaan harus dilalui dengan senyuman dan ucapan syukur. Sebagaimana tidak seharusnya pula kesusahan dilalui dengan air mata dan kata-kata yang kurang baik.

Jika saja si Ibu berdiri saat badai itu datang, tentulah dia lebih kuat dari sekarang dan bisa saja masa lalu tak berbekas sama sekali.




Salam secangkir kopi...
Semanggi (1/6-2011)

Jumat, 29 April 2011

Mencari Kekayaan yang Membahagiakan


Tujuan hidup bisa beragam, dipengaruhi oleh banyak hal seperti lingkungan, motivasi diri, latarbelakang budaya dan pendidikan, pengalaman masa lalu, harapan di masa mendatang, dan banyak lagi. Bukan saja dipengaruhi  banyak faktor, tujuan hidup juga mempengaruhi banyak faktor seperti cara bersikap, cara mempresentasikan diri, dan lain sebagainya. Mendasarkan pada pandangan bahwa tujuan hidup adalah "bahagia', kiranya tulisan ini dapat menjadi penyegar para pencari kebahagiaan dan para pemberi kebahagiaan.

Socrates suatu kali dimintai datang ke rumah seorang yang sangat kaya. Orang kaya tersebut menunjukkan kekayaannya pada Socrates. Rumah yang indah, para pegawai yang penurut, ruangan-ruangan bersih dan mengkilap, serta taman yang indah, seperti sebuah istana. Dengan senyum lebar, orang kaya tersebut berkata kepada Socrates: "Akuilah Socrates, tentu engkau iri melihat kekayaan ini." Socrates menjawab: "Aku bangga padamu dengan keyaaan seperti ini, aku kagum. Namun tentunya engkau lebih kagum padaku karena aku tidak memerlukan kekayaan sebanyak ini untuk mendapatkan kebahagiaan."

Lazimnya, menilai kekayaan adalah dari sisi ekonomi. Teringat dengan cerita sang dosen, Prof. Wegie, kekayaan itu ada batasnya. Jangan coba melewati batasnya. Saat engkau melewati batasnya, maka yang ada adalah petaka. Beliau memberikan contoh, Gayus Tambunan (pegawai golongan III yang korup di kantor Pajak). Demikian pula dengan Khadafy, Melinda Dee, serta tentunya banyak nama lain. Mantan Presiden bangsa ini, Soeharto, patutlah diperhitungkan sebagai orang yang berbahagia. Berkuasa selama puluhan tahun sebagai presiden, berkarya demi bangsa, memiliki kecukupan bahkan berkelimpahan. Sebagai seorang presiden/ mantan presiden, beliau pantas dianggap memperoleh kebahagiaan yang besar. Namun sebagai seorang Ayah bagi anak-anaknya dan suami bagi istrinya, dapatkah kebahagiaan didapatkan saat harus melihat istri sendiri meninggal tertembak pistol anak sendiri?

Robin Sharma menuliskan dalam bukunya ada 8 jenis kekayaan.
  1. Kekayaan pribadi (inner wealth)
    • Ketenangan, kedamaian hati. Banyak orang kaya yang tidak memiliki ketenangan ini. Hatinya selalu gelisah, tidak pernah puas, dan selalu merasa terancam. Saya teringat dengan sinetron yang menceritakan percakapan seorang anak majikan dengan anak pembantunya yang kebetulan tinggal bersamanya, "Kamu beruntung. Sekalipun kamu miskin, tetapi kamu punya orangtua yang selalu bisa bermain bersamamu. Saya memang dikasih banyak uang tetapi orangtuaku tak pernah ada waktu untukku."
  2. Kekayaan fisik
    •  Tidak sedikit yang mengumpulkan kekayaan, prestasi dan prestis, ambisi dan lain sebagainya dengan mengorbankan fisiknya. Setelah itu, semua kekayaan, prestis, prestasi dan ambisinya pupus dan harus dikorbankan untuk mendapatkan kembali kesehatannya. Maka kekayaan secara ekonomi belum ada artinya jika fisik kita sakit-sakitan. Pusing, tidak bisa tidur lelap, terbangun di tengah malam, sakit maag, kemudian berkembang menjadi insomnia, diabetes, stroke dan jantung akut, tidak terbatas hanya untuk orang yang tak punya uang.
  3. Kekayaan keluarga dan sosial
    • Tidak ada artinya menjadi kaya tatkala keluarga berantakan. Apalah artinya menjadi kaya jika hubungan keluarga penuh intrik, pertengkaran dan rusak. Anak-anak masuk penjara, serta perasaan terancam karena banyaknya musuh.
  4. Kekayaan karier
    • Banyak yang bekerja menghasilkan banyak uang, namun sesungguhnya dia tidak menyukai pekerjaan yang digelutinya. Pekerjaan itu baginya tidak memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Saat ditanya secara jujur, sebenarnya mereka bosan dan benci dengan pekerjaannya.
  5. Kekayaan ekonomi
    • Kekayaan ini yang paling banyak dipahami. Uang sering menjadi ukurannya. Walau uang bukanlah segalanya, setiap manusia juga membutuhhkan uang untuk memenuhi banyak hal yang dibutuhkan. Sayangnya, banyak orang yang melihat kekayaan inilah satu-satunya ukuran kekayaan dan ini yang menyesatkan.
  6. Kekayaan hubungan dan pergaulan
    • Facebook, twitter, BBM group, YM, dan berbagai media sosial lainnya di dunia maya atau bahkan di dunia nyata merupakan sebuah pertanda bahwa manusia butuh interaksi. Persahabatan dan hubungan adalah kekayaan yang penting. Selama kita memiliki jaringan yang bisa mendukung kita, maka kita akan sulit terpuruk. Dalam hal inilah bidang praktis marketing menemukan permata-permata baru.
  7. Kekayaan pengalaman
    • Banyak yang kaya secara ekonomi namun miskin dalam pengalaman. Mereka tidak pernah ke mana-mana karena takut, banyak dibatasi untuk mendapatkan pengalaman karena berbagai ketakutan dan kekhawatiran.
  8. Kekayaan pengaruh sekitarnya
    • Tidak sedikit orang kaya yang menikmati kekayaan untuk diri sendiri dan keluarganya saja. Orang-orang sekitarnya tidak merasakan dampak positif dari kekayaan yang mereka miliki. Saat orang kaya ini meninggal, tidak banyak orang di sekitarnya yang merasa kehilangan. Tidak terlalu ditangisi, sebab tidak pula menjadi berkat bagi orang lain.
Kekayaan adalah sesuatu yang tidak datang begitu saja. Itu adalah hasil kerja keras, semangat pantang mundur, dan ketekunan dalam bertindak. Yang merasa belum kaya melihat bahwa setelah kaya, pasti akan bahagia. Kaya selalu diidentikkan dengan kebahagiaan, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Bahkan acap kali, kekayaan justru tidak mendatangkan kebahagiaan. Sudahkah Anda memiliki kekayaan yang membahagiakan?



Salam secangkir kopi!

Minggu, 27 Februari 2011

Anak Berkebutuhan Khusus?


Aditya Gumay lagi-lagi membuat penonton filmnya terharu, tergelitik, sekaligus tertegun dengan film yang diangkat dari buku Jendela Rara ini. Film yang mengisahkan dua lingkungan yang kontras: rumah singgah (beserta lingkungannya) dan rumah mewah (beserta lingkungannya) ini menembus berbagai penghalang antara yang ada antara dua lingkungan tersebut. Aldo! Ya, Aldo, anak berkebutuhan khusus itu yang menjembatani jurang kaya dan miskin. Maka tidaklah berlebihan bila Aldo disebut sebagai inisiator yang dahsyat! Nenek Aldo, orang padang dari Medan  menjadi pembuka jalan saat Rara terjatuh di samping mobil mereka dengan membawa Rara berobat ke rumah sakit dan mengantarkan Rara kembali ke rumahnya.

Aldo menjadi penggagas pemberian buku-buku untuk Rumah Singgah, sekolah Rara yang Bu Alya mengabdikan dirinya untuk mengajar anak-anak pemulung itu di sana. Aldo yang menggagasi renang bersama di kolam renang rumahnya, serta menggagasi tinggalnya Rara di rumahnya sementara Ayah dan Nenek Rara dalam keadaan kritis. Aldo, anak berkebutuhan khusus itu, menjadi tokoh utama yang sangat manusiawi.

Betapa sebuah "kebaikan" merupakan bahasa yang dipahami oleh semua insan. Dulunya saya bertanya-tanya, apa konsep seorang anak berkebutuhan khusus (anak yang tidak lazim, atau tidak sama dengan anak pada umumnya) tentang "kebaikan", spiritualitas dan kehidupan. Film ini memecahkan keingintahuan itu. Sungguh Aldo dan anak berkebutuhan khusus lainnya pun pada kenyataannya memiliki pemahaman yang sama. Satu hal yang menarik, bahwa mereka pun lebih mulia.


Salam Secangkir Kopi!

Tanjung Duren, Minggu Pagi.

Kamis, 24 Februari 2011

Minum Kopi di Busway

Yuk!

Menikmati secangkir kopi di bus Transjakarta (baca: Busway) benar-benar meneduhkan jantung.:-) Mari bersama toast untuk kopi kita! Toast!

Berbondong-bondong menuju pintu karcis, kretak krutuk, kletek kletak, derap langkah insan-insan sibuk sungguh meramaikan ibukota. Langsung terbayang dengan derap langkah kuda di jaman dulu, barangkali tak jauh berbeda. Betapa kagum! Puluhan, mungkin ratusan bahkan dalam sehari entah ribuan orang bisa melewati lantai-lantai besi itu, hingga tampak banyak bagian besi itu terkikis oleh kaki. Licin dan mengkilap, menipis, dan sebagian mulai berlubang karena menipis. Bahkan karat pun tak berani menempel. Mewangi, ramai, segar, panas, sesak, semua menyatu di pagi hari menuju kereta kencana Jakarta, sang Busway. Ya, sang Busway. Menantinya bak menanti keselamatan. Klaksonnya bak lonceng kemenangan. Berhari-hari dengan hal yang sama, menjadi sebuah rutinitas yang selalu dapat disaksikan di tengah hiruk pikuknya kota ini. Banyak sama dan sedikit berbeda dengan petang, saat sang pejuang nafkah kembali dari medan perangnya masing-masing. Aroma parfum bercampur aroma manusiawi, nafas-nafas panas dan kering, wajah-wajah lesu dan lelah menjadi warna rutinnya saat petang hingga malam. Ya, mari minum kopi di busway!


Pemersatu Kebhinnekaan
Minum kopi di busway selalu menggairahkan. Bukan saja takut kopi tertumpah karena guncangan beberapa lubang dan rem sang pengemudi, namun kopi itu membuat mata tak bisa terpejam. Selalu ada hal baru! Fenomena Smartphone berbagai merek, QWERTY, touchscreen, mulai dari harga tertinggi di nusantara hingga harga terendah di nusantara ada di busway. Selalu demikian pagi dan petang. Berbagai pola wajah, mulai dari kantoran, bersantai, riang, gundah, semua menyatu di busway. Tak heran bila busway bagiku adalah pemersatu kebhinnekaan! Tak bisa memejamkan mata. Selalu ada yang menarik untuk dilihat:-)


Superplong Sang Pembunuh Supermacet
Keresahan dan kejenuhan dengan macetnya ibukota bukan saja menjadi milik masyarakat pada umumnya. Pak Beye pun, bahkan jajaran media menyorot sumpeknya kota ini, dengan sekelumit masalah terkait kepadatan penduduk, jumlah kendaraan bermotor yang kian meningkat serta polusi yang ditimbulkannya, hampir tak terpecahkan. Saat dibuatnya jalur-jalur khusus busway dan pengontrolan penggunaan jalur busway, baru nafas terasa lega sebab naik busway kemanapun lebih cepat dan lebih hemat. Saya sudah putus hubungan dengan macet! Supermacet telah tiada sejak superplong diberlakukannya koridor 9 dan 10, serta survey berkala oleh ITDP dan layanan cepat dari sang superplong yang asli. Namun banyak superplong palsu pula berkeliaran! Waspadalah!:-)

Layanan Premium dengan Harga Ekonomis
Entah sampai kapan para pemilik mobil mewah akan menggunakan busway menjadi alat transportasinya menuju kantor dan rumah. Dalam liburan Desember hingga Januari, hampir tidak pernah saya menaiki busway, sebab mengendarai mobil menjadi pilihan pertama. Saat harus menaiki busway kembali, mulai resah dengan bayangan akan kepadatan antrian, panas, berdiri sepanjang perjalanan, dan lelahnya dalam perjalanan. Namun kinerja dan upaya Transjakarta tidak dapat dianggap enteng. Betapa nyamannya saya menaiki busway Grogol-Harmoni, Harmoni-Bendungan Hilir, Harmoni-Senen, dan sebaliknya. Bahkan jauh lebih nyaman daripada taksi BlueBird atau Silver Bird! Sungguh! Jalur busway telah steril dan perjalanan kemanapun sangat cepat, bahkan kadang lebih cepat daripada antriannya, dan pasti lebih cepat daripada menaiki taksi yang masih terikat dengan kemacetan dan biaya yang semakin besar terlebih dengan naiknya harga BBM.


Ketika Busway Menjadi Pembuka Masalah Sosial
Mulai dari Blok-M hingga Harmoni, dan dari Harmoni hingga Pulo Gadung, aku tak berhenti mencatat di memoriku betapa banyaknya pendobrak detak jantungku. Siapapun pasti merasakan hal yang sama jika mengalaminya. Antrian panjang yang tak kurang dari setengah jam, berdesakan dan saling mendorong untuk masuk... Jika saja nafas manusia adalah asap, halte Harmoni tentulah penyebab polusi kota ini. Kepulan asapnya bisa saja melebihi kepulan asap pabrik kertas Indorayon dulu di Sumatera Utara. Aku teringat dengan adanya pemisahan antrian laki-laki dengan wanita, ditempel jelas di pintu masuk dan keluar halte. Keliaran lelaki dan perempuankah yang disimbolkan dengan aturan itu? Antrian buswaykah pemicu keliaran itu? Di beberapa halte, aturan tersebut tinggal tempelan kertas yang sudah tidak terlihat lagi tintanya, dan antrian kembali membaur. Hampir di semua halte busway, mesin ATM Bank DKI berfungsi sebagai penghias saja. Saya heran, di luar halte busway, justru mesin ATM berfungsi optimal melayani para nasabah. Kedua tempat itu memiliki SATPAM atau setidaknya yang bertanggungjawab menjaganya. Lantas, buswaykah pemicu kriminalitas baru tersebut? Bahkan pintu-pintu haltepun sudah tidak berfungsi elektronis lagi, serta kasus pencurian, perampokan dan penyekapan marak. Jumlah pengemis jembatan-jembatan penyeberangan menuju halte busway, pengasong, pedagang kaki lima, semakin hari semakin bertambah. Jembatan penyeberangan itu bahkan terasa seperti pasar dengan kemacetan pejalan kaki pula karena dagangan mereka mengambil setengah area pejalan kaki. Saya sedang mensinyalir akan ada arogansi para pengemudi busway pula. Dipicu oleh semangat dan komitmen pemerintah DKI untuk mensterilkan jalan busway, para pengemudinya pun serta merta dengan mudah saja melindas kendaraan yang secara sengaja atau tidak masuk ke jalur busway, bahkan orang pun tak boleh menyeberanginya (lihat pemberitaan bulan lalu, anak kecil ditabrak tewas oleh busway, pengendara motor meninggal karena busway).
Dialihkannya trayek PPD dan Mayasari Bakti yang searah dengan busway pun bersamaan mengalihkan kriminalitas ke busway. Kemanakah para artis bis kota itu akan pergi? Kemanakah para preman dan pemalak pergi? Tentulah busway bukan menjadi tempatnya. Maka mereka harus memodifikasi bentuk premanismenya dengan yang lebih sesuai dengan busway, sebab memang bus umum adalah kantor mereka. Para preman tak lagi berpakaian sangar, namun mulai berkemeja wangi. Para pengamen beralih menjadi banci di lampu merah, lap mobil, dan lainnya yang lagi-lagi menimbulkan masalah baru--KEMACETAN. Apakah yang ada dalam benak para kaum margin ini saat adanya busway dihubungkan dengan kerja apa yang akan mereka lakukan?


Resiliensi: Secangkir Kopi
Pusat keramaian memang menjadi pusat masalah. Berani ramai, berani menuai masalah. Para tokoh dalam tulisan ini adalah: aparat keamanan, supir busway, kaum margin, penumpang busway, dan presiden. Anda siapa dari antara mereka? Luangkan waktu Anda membantu mereka...



Salam secangkir kopi!
Gn. Sahari Selatan, 24 Februari 2011, 21.00 WIB.

Potret!



Baginya, terlihat sulit sekali mengambil sepenggal potret badanku yang akan kusertakan di CV baruku. Tiga puluh menit akhirnya aku merasa puas dengan salah satu hasil jepretannya, sementara yang lainnya kuhapus. Hahaha! Begitulah. Rasanya puas melihat hasil foto yang satu itu. Walau memang faktor wajah yang kurang bersahabat di kamera memang salah satu faktor yang menghambat.:-)

Anyway, life is a potret! Sekali menjalaninya, tidak akan dapat diulang kembali. Setiap detik berlalu, itu adalah potret. Ya. Potret adalah masa lalu! Hal itulah yang terefleksikan olehku, saat aku melihat kamera kecil itu, bergumam dalam hati, mengapa harus ada kamera? Ya. Potret adalah masa lalu! Maka kamera adalah masa lalu. Betapa berharganya masa lalu, sehingga kamera menjadi sebuah benda yang dianggap wajib dimiliki setiap orang (entah di HP, kamera kantong, atau bahkan kamera berlensa yang kisaran harganya 14-30 jutaan). Betapa mahalnya sebuah potret. Ya, sebuah potret. Mari berfoto! Mari membangun masa lalu yang indah! Mari tersenyum! Ciptakanlah foto-foto terbaikmu di semua lensa kamera yang ada.


Salam Secangkir Kopi!
Tengah malam di Ibukota, 23 Februari 2011

Rabu, 23 Februari 2011

Resilience!

Waktunya tidur. Mulailah bermimpi. Seonggok harapan, segudang nafsu, sekelumit keliaran, jelajahi represimu! Jadilah manusia! Lepaslah resilience!

Waktunya untuk berbenah. Masuklah ke alam mimpi. Bersama Freud. Bersama Nietszhe. Bersama "aku"mu. Jadilah manusia! Lepaslah resilience!

Waktunya terpingkal. Kemarikan suaramu. Tegangkan nadimu, sorakkan ceriamu. Jadilah manusia! Lepaslah resilience!



Ibukota, 23 Februari 2011